Suka dan duka hidup di pesisir pantai

Hidup di pesisir pantai

Kebanyakan sekolah di Indonesia mempunyai organisasi internal yang bernama Pramuka. Karena sekolahku berbasis pondok pesantren namanya bukan pramuka tetapi pandu. Secara materi dan kegiatan hampir sama tetapi hanya beda nama dan seragam.

Dan organisasi seperti itu tidak akan terlepas dari kegiatan yang berbasis pencinta alam. Dan salah satu kegiatan alam yang sering dilakukan adalah penjelajahan dan kemah. Dengan tujuan agar generasi muda lebih mengenal alam, dan agar bisa menjaganya dan melestarikannya.

Tetapi biasasnya kebanyakan anak tidak menyukai hal-hal seperti itu, termasuk aku. Karena dianggap kegiatan seperti itu sangat merepotkan dan membuang waktu. Dan itulah mental-mental anak jaman sekarang pengennya selalu yang enak-enak saja. Haha

Kegiatan akhir bulan

juragancipir.com

Karena terlalu banyak kegiatan di dalam pondok yang menyebabakan anak-anak menjadi bosan. Dan berhubung materi yang yang dipelajari telah selesai dan telah dikuasai. Pembina pandu akan membuat kegiatan dengan tujuan mempraktekkan ilmu yang dipelajari dan tadabur alam.

Maka Pembina Pandu sepakat akan mengadakan kegiatan kemah selama 1 sampai 2 hari. Yang akan dilaksananakan di Pantai Damas di Kota Trenggalek agar para santri lebih mengenal alam. Dan ini adalah kegiatan pertama yang diadakan oleh pondok selama aku sekolah di sana.

Walaupun akan merepotkan dan melelahkan tetapi itu akan menjadi pengalaman yang mengenang. Karena terakhir kali kemah, pada saat aku duduk di kelas 3 Smp dan itupun juga terpaksa. Karena didasari oleh keterpaksaan maka hasil yang didapatkan tdak maksimal.

Selain mencari ilmu dan tadabur alam juga aku niatkan untuk piknik karena di pondok merasa sumpek. Karena saat belajar di pondok sangat banyak pelajaran dan tugas. Agar saat sampai pondok pikiranku kembali fresh dan siap untuk menerima pelajaran.

Juga agar bisa tau dan mengenal tempat-tempat di Indonesia, mengetahui keadaan masyarakat disana. Dan juga untuk mengatehui ragam budaya dan kekayaan alam di Indonesia. Sebagai bentuk syukur kepada Allah atas segala nikmatnya yang menjadikan aku sebagai rakyat Indonesia.

Persiapan perlengkapan

Persiapan alat
pexels.com

Karena saat itu aku duduk dibangku kelas 3 SMK dan dirasa paling tua dan paling dewasa. Maka dari pihak panitia pelaksana kegiatan meminta bantuan kepada kami. Untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk bisa hidup di alam bebas selama dua hari.

Mulai dari mencari bambu, memotong bambu, dan mempersiapkan hal-hal yang lain. Dikarenakan pekerjaan sangat banyak dan kami sudah mulai capek dan waktu yang mepet. kami meminta bantun dari adek kelas kami untuk membantu tugas kami agar cepat selesai.

Sebab dikerjakan oleh banyak orang maka tugas yang tadinya berat menjadi ringan. Dan agar tidak banyak menyita dan menghabiskan waktu dan agar semua ikut andil dalam acara. Hal itu juga akan menumbuhkan sifat dan karakter peduli kepada orang lain.

Setelah semua perlengkapan selesai disiapkan dan siap untuk digunakan. Satu lagi masalah yang besar adalah tentang transportasi karena jarak Magetan dan Trenggalek tidak dekat. Dan ini adalah salah satu masalah yang akan menghambat keberangkatan jika tidak segera diselesaikan.

Sebetulnya mencari kendaraan itu mudah asal upah yang diberikan besar atau setidaknya cukup. Karena uang yang terbatas terlebih dahulu kami mencari kendaraan yang murah dan dapat menampung banyak orang. Dengan cara menanyakan kepada orang-orang yang kami kenal.

Salah satu temanku menawarkan agar bertanya terlebih dahulu kepada orang tuanya, karena rumahnya yang dekat. Setelah itu langsung saja dia berangkat dengan pembina pandu untuk mencari kendaraan. Beberapa saat mereka datang dengan wajah yang membawa sebuah harapan.

Mereka mendapatkan kendaraan dengan harga yang murah yaitu 900 ribu dan dapat menampung banyak orang. Tetapi yang menjadi masalah adalah, kendaraan yang dimaksud ada sebuah truk yang biasa mengangkut tebu. Gila, Megetan sampai Trenggalek naik truk tebu dan dengan atap terbuka.

On the way Trenggalek

On the way Trenggalek
pexels.com

Tapi walaupun dengan segala kekurangan tetapi kami tetap bersyukur dengan harapan bisa lebih baik kedepannya. Dengan semangat kami berangkat menuju lokasi agar cepat sampai ke tempat tujuan. Dan kami mengawali perjalanan dengan berdo’a bersama-sama. Kira-kira pukul 08.00 WIB kami berangkat, walau saat itu cuaca sedang gerimis. Tetapi itu bukanlah hal yang dapat menghalagi tekad yang ada di dalam hati kami. Dan malah menjadikan salah satu hal yang membakar semangat di dalam hati kami. Akan tetapi perjalanan yang kami lewati tidak mudah karena harus melewati pegunungan. Sesekali naik ,sesekali turun dan tidak jarang kami melewati belokan yang tajam. Beberapa kali kami terpontang-panting karena supir ngerem ndadak karena sedang melewati tikungan tajam.

Sampai tujuan

blogsport.com

Pantai Damas salah satu tempat wisata yang berada di Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Selain sebagai wisata pantai ini juga cocok untuk berkemah karena memiliki tempat yang sepi. Dan juga memiliki pemandangan yang indah karena pantai ini tergolong pantai yang murni. Kami sampai di lokasi saat dikumandangkan adzan dhuhur, perjalanan kami memakan waktu 4 jam. Setelah melaksananakan sholat di masjid dan beristirahat sebentar, untuk sekedar melemaskan tubuh. Kami masuk lebih dalam, untuk mencari tempat yang cocok untuk berkemah. Kira-kira jarak perumahan masyarakat dan tempat kami berkemah hanya 400 meter. Walaupun hanya 400 meter dari  perumahan tetapi tempat itu benar-benar sepi apabila malam hari. Tetapi beda halnya dengan siang hari, akan banyak orang yang berkerja untuk mengambil kelapa.

Mendirikan tenda

mendirikan tenda di pantai
pexels.com

Hal pertama yang kami lakukan saat sampai di tempat perkemahan adalah mendirikan tenda. Kami membuat tenda dari sebuah terpal yang kami bawa dari pondok. Untuk menempatkan barang bawaan kami agar tidak hilang dan untuk beristirahat saat kami capek.

Kami mendirikan tiga tenda, yang dua digunakan untuk tidur dan satu digunakan untuk dapur umum. Karena disana kami memasak sendiri dengan bahan-bahan yang telah kami persiapkan. Karena disana tidak ada air bersih, setiap akan memasak harus memita air pada warga sekitar.

Menyatu dengan alam

menyatu dengan alam
pexels.com

Setelah selesai mendirikan tenda kegiatan berikutnya adalah menikmati indahnya Pantai Damas. untuk dapat melupakan sejenak masalah-masalah yang membuat pusing pikiran. Ada sebagian dari kami berenang ada yang mencari ikan dan ada pula yang bermain sepakbola.

Setelah bermain sepakbola aku melihat sebagian teman-temanku membantu para nelayan menarik jaring di pantai. Tak mau kalah aku segera menyusul mereka, hanya untuk sekedar membantu para nelayan. Karena mereka menarik jaring tersebut hanya tiga orang.

Bukannya membantu, tetapi apa yang kami lakukan cuma mengganggu dan mengacau pekerjaan mereka. Karena aku dan teman-teman menarik jaring tersebut dengan asal tanpa didasari ilmu. Karena perbuatan kami itu salah satu nelayan yang raut mukanya berubah dan menggerutu.

Walaupun tau begitu, kami tetap nekad melakukan hal tersebut agar jaring cepat sampai ke pantai. Setelah beberapa saat akhirnya sampailah jaring yang besar di pantai dengan membawa ikan yang banyak. Karena kami membantu mereka maka kami diberi sedikit ikan yang mereka peroleh.

Setelah lelah membantu para nelayan menarik jaring hal selanjutnya adalah berenang dan bermain di perahu. Karena ombak di sana tidak terlalu besar atau bahkan sangat tenang. Tetapi beberapa teman yang tidak bisa berenang mereka hanya melihat kami dari pinggir pantai.

Karena telah merasa capek dan lapar maka aku membantu beberapa temanku yang sedang memasak. Yang kami masak hanya sekedar mie instan, agar tidak terlalu repot dan biar cepat matang. Walau hanya sekedar mie instan itu sudah cukup dan tidak menjadi masalah bagi kami.

Setelah masakan kami matang segera kami menyiapkanya, karena aku tau sebagian teman-temanku sudah lapar. Mereka mengantri sebagai mana yang diintruksikan oleh Pembina, agar lebih mudah dalam membagi. Juga untuk mempercepat proses karena santrinya tidak sedikit.

Malam yang panjang

malam yang panjang
pexels.com

Ketika memasuki malam hari, tepatnya setelah sholat isya’ kami diminta untuk segera istirahat. Tetapi dalam hati mulai muncul perasaan yang tidak nyaman dengan tempat itu. Karena baju dan tempat yang aku gunakan untuk tidur sangat lembab dan juga kotor.

Jujur saja aku sangat tidak senang dengan segala sesuatu yang lembab dan kotor. Bukan hanya lembab yang aku rasakan tetapi juga ditambah hawa dingin yang menyelimuti. Karena merasa tidak nyaman aku sulit untuk menutup mata untuk istirahat.

Karena aku belum bisa tidur, sesekali aku keluar untuk melihat pantai sekedar untuk menenangkan hati. Dan untuk menunggu matahari terbit dan segera pulang ke pondok tercinta. karena merasa tidak nyaman dan aku sangat berharap malam itu segera berganti dengan pagi.

Tetapi karena merasa capek dengan kegiatan yang telah dilakukan pada siang hari. Aku memaksa menutup mata untuk beristirahat supaya malam yang panjang ini segera berlalu. agar bisa cepat pulang ke pondok yang selama ini aku jarang bersyukur dengan tempat itu.

Walaupun dengan keadaaan seperti itu akhirnya aku bisa memejamkan mataku walau hanya sebentar. Dan sebentar lagi akan dikumandangkanlah adzan subuh dan saatnya sholat subuh berjamaah. Dan hatiku menjadi lega karena kemah akan segera selesai dan kami akan segera kembali.

Pukul 06.00 sebelum pulang kami membersikah tempat yang kami tempati untuk kegiatan kami. Agar tidak merusak ekosistem alam dan keindahan alam yang masih sangat asri. Sebagai salah satu cara untuk melestarikan dan menjaga lingkungan agar selalu indah dan lestari.

Setelah selesai bersih-bersih kami segera naik kendaraan agar bisa cepat sampai pondok kembali. Karena aku sudah sangat rindu dengan pondok dan aktivitas yang ada disana. Supaya kegiatan yang sangat lama dan melelahkan ini bisa cepat selesai.

Tinggalkan komentar