Hewan Bekantan: Satwa Endemic Kalimantan yang Unik dan Langka

hewan bekantan

Bekantan merupakan salah satu hewan yang jarang dibahas, baik itu bentuk, ciri-ciri, makanan, serta proses perkembangbiakannya. Namun, kali ini akan dikupas tuntas mengenai hewan bekantan yang termasuk dalam hewan unik ini.

Bekantan adalah satwa endemic Kalimantan, termasuk Brunei dan Malaysia yang berada di Pulau Kalimantan. Namun, bekantan lebih banyak ditemukan di Kalimantan Selatan, hingga menjadi fauna identitas Kalimantan Selatan. Hewan yang satu ini menjadi salah satu jenis hewan yang dilindungi, karena populasinya yang mulai berkurang dan penyebarannya yang tidak cukup luas.

Hewan bernama latin Nasalis Larvatus ini termasuk dalam jenis monyet, akan tetapi ada perbedaan fisik yang menonjol dari jenis monyet lain pada umumnya. Perbedaan tersebut terletak pada bentuk hidungnya yang panjang dan cukup besar. Selain itu, rambut hewan bekantan adalah coklat kemerahan. Dari kedua ciri tersebut maka masyarakat Indonesia banyak yang menyebutnya dengan sebutan ‘monyet Belanda’, karena ciri fisik yang menyerupai orang Belanda.

Berbeda dengan orang Malaysia yang menyebutnya kera bekantan, berbeda pula dengan Brunei yang menamakannya bangkatan. Namun, di negara besar lainnya, monyet satu ini lebih dikenal dengan sebutan proboscis monkey dan long nosed monkey. Cukup banyak bukan nama dari hewan bekantan ini?

Nah, setelah berbicara berbagai nama dari bekantan, berikut ini akan disajikan ciri-ciri bekantan agar lebih mudah membedakannya dengan jenis monyet lain:

  1. Berhidung panjang dan membesar di bagian ujungnya
  2. Rambut berwarna coklat kemerahan pada bagian punggung
  3. Berwarna putih keabuan pada bagian ventral dan anggota tubuh lain
  4. Tidak ditumbuhi rambut pada bagian muka bekantan
  5. Panjang tubuhnya berkisar 559-762 mm
  6. Memiliki ekor dengan panjang yang hampir sama dengan panjang tubuhnya
  7. Ukuran tubuh bekantan jantan lebih besar dari bekantan betina, begitu pula ukuran hidungnya
  8. Berat bayi bekantan berkisar 454 g
  9. Berat bekantan dewasa berkisar 16-22 kg untuk jantan, dan 7-12 kg untuk betina

Berbeda bentuk fisik dari jenis monyet lainnya, maka berbeda pula tingkah laku atau kebiasaan monyet Belanda ini. Ya, hewan bekantan sangat jago dalam berenang, entah itu di sungai yang dalam ataupun di danau luas. Hal tersebut dikarenakan bekantan memiliki selaput kulit di bagian telapak kaki, sama seperti katak. Selaput kulit (web) sangat memudahkan monyet berhidung panjang untuk menyebrangi sungai.

Sebagai bagian dari jenis monyet, tentunya bekantan sangat mahir berpindah, melompat, menggantung dari dahan pohon satu ke pohon lainnya. Tangan dan kaki panjangnya mampu menggenggam dahan dengan erat, sehingga tidak akan terjatuh. Dengan begitu, bekantan tergolong satwa arboreal atau satwa yang hidupnya di pohon.

Hewan bekantan sangatlah aktif pada pagi hingga sore hari, sementara saat menjelang sore, ia akan mencari pepohonan di sekitar tepi sungai untuk tidur. Bekantan pun tidak melakukan hal tersebut seorang diri, mereka berkelompok dalam satu pohon atau pada pohon lain yang berdekatan.

Tidak seperti burung yang membuat sarang di pohon untuk beristirahat, bekantan bisa tidur hanya dengan bersandar di salah satu dahan pohon saja. Dengan posisi yang menurut manusia sangat tidak nyaman tersebut, bekantan bisa tidur dan istirahat dengan nyaman.

Lantas, berdasarkan jenis makanannya, termasuk dalam kelompok manakah hewan bekantan ini? Ya, tentunya termasuk kelompok herbivora, sama seperti jenis monyet lainnya. Bekantan juga sangat suka menyantap buah-buahan, seperti pisang yang menjadi ikon makanan monyet. Bekantan mengonsumsi buah-buahan sebanyak 40%, sementara 50% untuk daun muda, dan sisa lainnya adalah biji-bijian serta bunga. Unik bukan?

Yang lebih unik lagi adalah, meski menjadi hewan herbivora, bekantan kerap kali mengkonsumsi serangga. Beberapa serangga menjadi santapannya saat musim surut. Kelompok bekantan kerap berlomba mencari serangga di tanah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Perkembangbiakan Bekantan

Sumber : borneochanel.com

Hewan bekantan mempertahankan populasinya dengan cara berkembangbiak. Nah, hewan ini termasuk hewan mamalia, sehingga ia berkembangbiak dengan cara melahirkan. Adapun usia produktif bekantan jantan ialah 7 tahun, sementara bekantan betina memasuki usia produktif pada 4 tahun. Biasanya pada sekelompok bekantan yang jumlahnya berkisar 15 ekor, hanya terdiri dari 1 pejantan. Pejantan tersebut akan diperebutkan oleh bekantan betina saat musim kawin tiba.

Yang membuat hewan bekantan semakin langka salah satunya adalah karena setiap proses reproduksi, bekantan betina hanya bisa melahirkan satu bayi bekantan saja. Masa kehamilan induk betina sendiri yaitu berkisar 166 hari atau setara dengan 5-6 bulan.

Setelah masa kehamilan usai, induk betina melahirkan bayi yang berbobot sekitar 454 g. Bayi yang biasanya dilahirkan pada malam hari itu berbulu hitam dan berwajah biru. Setelah memasuki usia ke 3 bulan, bulu sang bayi akan semakin lebat dan wajahnya akan berubah warna. Dalam kurun waktu tersebut juga induk betina bertugas menyusui anaknya. Anak bekantan tidak akan berpisah dengan induknya sebelum memasuki usia produktif, yaitu 4 tahun lebih.

Penyebab Kelangkaan Bekantan

Sumber : borneochanel.com

Selain jumlah bayi yang dilahirkan terbatas, pastinya ada faktor lain yang membuat hewan bekantan semakin langka. Ya, salah satunya yaitu perburuan liar satwa endemic Pulau Kalimantan yang kemudian diperjualbelikan demi keuntungan sendiri.

Disamping itu, Kalimantan adalah daerah yang kerap kali mengalami kebakaran hutan. Kebakaran hutan sangat berpengaruh terhadap populasi alam liar, tak hanya bekantan. Ditambah lagi adanya aksi illegal logging yang membuat bekantan tidak lagi memiliki tempat tinggal, alhasil bekantan tidak bisa bertahan hidup lebih lama.

Satwa satu ini mampu bertahan hidup selama 30 tahun di habitat konservasi, sementara hanya bisa bertahan hingga usia sekitar 13 tahun saja di alam liar. Dengan begitu, Kalimantan telah menempatkan hewan bekantan di beberapa area konservasi demi menjaga populasinya. Area konservasi tersebut diantaranya adalah Taman Nasional Gunung Palung di Kalimantan Barat, Taman Nasional Tanjung Putting di Kalimantan Tengah, Taman Nasional Kutai di Kalimantan Timur, dan beberapa daerah hutan, rawa, serta pinggiran sungai di Kalimantan Selatan.

Leave a Comment