Pakaian Adat Madura yang Penuh Keunikan dan Makna di Dalamnya

Madura adalah salah satu suku yang masih memegang teguh tradisi, termasuk dalam pemakaian pakaian adatnya. Ya, Anda kerap menemukan seseorang mengenakan baju gari-garis merah dan putih yang disertai rangkapan warna hitam bukan? Itu salah satu jenis pakaian adat Madura.

Karena memiliki ciri khas tersendiri dan sudah familiar di kalangan masyarakat luas, pakaian adat suku Madura kerap dijadikan ikon Jawa Timur. Bahkan di tahun 2021 baju adat tersebut dikenalkan pada dunia lewat ajang Miss Grand International.

Tidak seperti yang Anda kira, Madura tidak hanya memiliki pakaian adat berupa merah putih hitam saja, namun ada pakaian khusus pengantin, kebaya khas Bangkalan, hingga kain yang disebut samper Madura. Dimana letak keunikan pakaian-pakaian adat tersebut? Yuk simak!

Pakaian Adat untuk Pria Madura

Jenis pakaian adat yang pertama adalah yang sangat familiar bagi Anda, yakni baju merah putih dan hitam. Setelan semacam ini disebut baju “pesa’an” oleh orang Madura. Modelnya terkesan simple dan cocok digunakan untuk kegiatan sehari-hari.

Baju ini dibuat senyaman mungkin, ukurannya serba longgar, bagian dalamnya berbahan kaos, serta mengenakan bawahan yang disebut “gomboran” atau celana gombrang. Celana gomboran memiliki tali karet pada bagian pinggang, sehingga bisa menyesuaikan ukuran tubuh seseorang. Celana ini pun bisa berukuran panjang hingga mata kaki maupun hanya sampai lutut.

Filosofi Pesa’an

Nah, dibalik modelnya yang longgar dan membuat setiap orang nyaman memakainya, pesa’an memiliki makna tersendiri. Model baju dan celana longgar tersebut merupakan simbol dari orang Madura yang menghargai kebebasan.

Selain itu, kaos garis merah putih menggambarkan sifat pemberani, tegas, dan mental pejuang yang dimiliki orang Madura. Ya, seperti yang Anda ketahui, masyarakat Madura memang terkenal dengan keberaniannya bukan?

Aksesoris Pakaian Adat Pria Madura

Selain setelan berupa kaos, luaran, serta celana gomboran, pakaian adat Madura dilengkapi dengan beberapa aksesoris, seperti ikat kepala yang bernama “odheng”, sabuk katemang, alas kaki yang disebut “trompa”, sarung kotak-kotak, dan celurit sebagai senjata tradisional Madura.

Sama seperti pakaian adat daerah lainnya, ikat kepala atau odheng Madura terbuat dari kain bermotif batik. Namun odheng khas Madura ada dua jenis berdasarkan ukurannya, yaitu odheng peredhan untuk ukuran besar, serta odheng tongkosan untuk ukuran kecilnya.

Pada odheng peredhan memiliki pelintiran ujung simpul berbentuk tegak lurus yang melambangkan huruf alif pada bahasa Arab. Sementara itu, pada odheng tongkosan ujung simpulnya berbentuk menyerupai huruf lam alif yang berarti simbol keesaan Allah.

Selain dibedakan dari ukurannya, jenis odheng juga dibedakan berdasarkan motifnya. Jenis odheng tersebut diantaranya odheng garik, dul cendul, modang, dan bere’ songay.

Pakaian Adat Wanita Madura

Pastinya pakaian adat yang dikenakan pria berbeda dengan pakaian yang dikenakan wanita, ya. Model atasan dan bawahannya pun lebih feminim milik wanita, begitupun bahan yang digunakan. Wanita Madura menggunakan pakaian adat yang disebut “aghungan”. Aghungan berupa kebaya rancongan berwarna terang dan mencolok yang didesain pas dengan ukuran tubuh.

Kebaya berlengan panjang tersebut dilengkapi odhet atau stagen pada bagian dalamnya, membuat tubuh tampak ramping. Sementara itu, bawahan kebaya menggunakan sarung bermotif batik tabirun, lasem, atau storjan, yang menjadi ciri khas Madura.

Aksesoris Pakaian Adat Wanita Madura

Kurang lengkap rasanya bila kebaya rancongan tidak disertai aksesoris, entah itu hiasan kepala, bros, atau perhiasan. Bagi wanita yang tidak mengenakan kerudung, biasanya menggunakan tatanan rambut cepol disertai hiasan cucuk dinar dan cucuk sisir.

Selain itu, ada bros berwarna emas biasa disematkan pada bagian bawah leher, membuat tampilan kebayanya semakin elegan. Beberapa wanita Madura pun memakai kalung emas yang berbentuk menyerupai rentengan biji jagung agar terkesan mewah.

Pakaian Adat Pengantin Madura

Dalam upacara adat pernikahan, pengantin Madura pun mengenakan pakaian adat yang unik. Jika dilihat sekilas mungkin seperti pengantin Jawa pada umumnya, tapi jika diperhatikan, keduanya cukup berbeda.

Ada dua jenis pakaian adat Madura khusus pengantin, yakni busana legung dan busana kaputren. Untuk busana legung pengantin wanita terdiri dari kain yang dikenakan sebagai kemben, sementara pengantin pria hanya menggunakan kain di bawah dada. Busana ini biasanya dilengkapi dengan bawahan berwarna merah serta aksesoris khas Madura yang cukup mencolok.

Lain halnya dengan busana pengantin kaputren yang lebih tertutup, elegan, namun mewah. Ya, bahannya terbuat dari kain beludru warna hitam baik untuk pengantin pria maupun wanita. Beludru hitam tersebut ditambahkan dengan aksen emas pada beberapa bagian, membuat tampilannya makin memukau. Sementara itu, bawahan busana kaputren menggunakan samper atau kain batik khas Madura.

Pakaian Khas Bangkalan Madura

Bangkalan adalah salah satu kabupaten yang berada di Pulau Madura. Kabupaten yang satu ini terkenal dengan busana adatnya yang dikenal dengan nama “kebaya bengkal”. Kebaya tersebut berbahan beludru yang disertai sulaman benang emas atau benang merah. Bentuknya seperti kebaya pada umumnya dan cenderung bermotif polos.

Nah, bawahan kebaya bengkal ini berupa kain songket berbahan sutra dengan motif kotak-kotak. Untuk mempercantik tampilan, biasanya busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang beraksen emas atau senada dengan warna kebaya. Baik pria maupun wanita, jika mengenakan pakaian adat Madura khas Bangkalan, menggunakan alas kaki berupa selop berwarna gelap.

Samper Madura

Samper merupakan kain yang sering digunakan sebagai bawahan pakaian adat khas Madura. Ya, kain ini mirip dengan kain jarik Jawa yang berbentuk memanjang. Jadi, cara memakainya adalah dengan melilitkan kain tersebut pada badan, lalu diperkuat dengan kain tipis atau sabuk.

Namun kini, kain samper Madura jarang dikenakan sebagai bawahan, sebab sudah banyak rok dan celana yang lebih simple cara pemakaiannya. Dewasa ini, kain samper hanya digunakan pada acara tertentu, seperti upacara adat, prosesi kematian, dan lainnya.

Batik Madura

Ya, Madura juga memiliki batik yang motifnya berkarakter, lho. Warnanya pun lebih variatif dibanding batik lainnya, yakni coklat, hitam, hijau, biru, kuning, merah, dan masih banyak lagi.

Nah, setiap warna dan motif batik Madura memiliki makna tersendiri, misalnya batik hijau melambangkan nilai religi dari suku Madura, sebab dulu salah satu kerajaan islam didirikan di Pulau Madura. Batik berwarna kuning melambangkan kekayaan hasil tani masyarakat Madura, sementara batik berwarna biru melambangkan Pulau Madura yang dikelilingi laut.

Motif batik khas Madura pun cukup beragam, mulai dari motif tumbuhan, binatang, hingga motif kombinasi. Tapi motif yang paling terkenal adalah motif batik pesisiran dan motif batik pedalaman. Batik pesisiran memiliki warna dan motif yang cukup berani, sedangkan batik pedalaman menggunakan warna-warna gelap yang membuatnya tampak klasik.

Ternyata pakaian adat Madura penuh dengan keragaman, keunikan, dan mengandung makna, ya. Dengan lebih mengenal pakaian adat semacam ini, sama saja kita ikut melestarikan kebudayaan Indonesia. Yuk, jangan biarkan budaya temurun dari nenek moyang hilang tergerus zaman!

Tinggalkan komentar