Mengenal Ragam Pakaian Adat Batak Beserta Ciri Khasnya

Tidak salah lagi, Batak merupakan suku terbesar yang menghuni Sumatera Utara. Ya, provinsi yang satu ini kurang lebih memiliki tiga suku, salah satunya Batak. Batak sendiri terbagi menjadi beberapa sub suku, yakni Batak Angkola, Batak Pakpak, Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Karo, dan Batak Simalungun.

Dari masing-masing suku tersebut tentunya memiliki perbedaan entah dari tradisi, upacara adat, hingga pakaian adatnya. Pakaian adat di setiap daerah memiliki keunikan tersendiri, baik dari bajunya, bawahannya, aksesoris kepala, dan ornament lain. Nah, untuk lebih jelasnya, yuk simak ulasan pakaian adat Batak berikut ini!

Baju Adat Batak Toba

Hampir semua pakaian adat suku Batak menggunakan kain tenun tradisional atau kain ulos, hanya saja modelnya berbeda. Nah, untuk Batak Toba sendiri memiliki beberapa ulos yang digunakan untuk acara tertentu, misalnya ulos sibolang yang dikenakan saat berduka, ulos ragi hotang untuk pesta, ulos mangiring yang dikenakan oleh anak pertama yang baru lahir, ulos suri-suri ganjang untuk pemusik, dan sebagainya.

Pengantin yang bersuku Batak Toba biasanya menggunakan pakaian adat secara lengkap, dari aksesoris kepala hingga bawahannya. Untuk pengantin pria menggunakan baju yang disebut “ampe-ampe”, serta bawahan yang bernama “songket”. Sementara itu, pengantin perempuan mengenakan atasan yang disebut “hoba-hoba”, dan bawangan “haen”.

Selain itu, mereka harus mengenakan aksesoris kepala yang bernama “bulang-bulang” untuk laki-laki, dan ikat kepala biasa untuk wanita. Pengantin wanita masih ditambah lagi dengan bros yang dipasang pada bagian tengah kerah ‘V’ , sehingga tampilannya makin cantik. Tak hanya itu, mempelai wanita pun kerap menggunakan tatanan rambut cepol bawah agar lebih rapi.

Baju Adat Batak Karo

Pakaian adat Batak Karo lebih didominasi dengan warna merah, terlebih untuk pakaian wanitanya. Nah, kain yang digunakan ini lebih akrab disebut “uis gara”, yang berarti kain merah. Kain tersebut juga dipadukan dengan warna hitam atau putih agar tak terkesan monoton.

Pakaian adat semacam ini lebih sering digunakan saat acara pernikahan. Ya, kedua mempelai mengenakan baju adat lengkap dengan aksesoris penutup kepala, sarung, selendang, serta hiasan emas atau perak. Warna emas atau perak juga terdapat pada kain uis garanya, sehingga nampak mahal namun elegan.

Konon, uis gara pada zaman dahulu hanya dikhususkan untuk perempuan suku Karo dan digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Namun kini, uis gara menjadi pakaian adat yang hanya dikenakan pada acara tertentu, entah pesta pernikahan atau upacara adat Karo.

Baju Adat Batak Mandailing

Batak Mandailing menggunakan kain yang sama dengan Batak Toba untuk pakaian adatnya, yakni kain ulos. Perbedaan yang paling menonjol dari keduanya adalah pada bagian aksesoris kepala. Ya, suku Batak Mandailing menggunakan aksesoris kepala yang lebih mewah, khususnya untuk wanita.

Wanita atau perempuan Mandailing mengenakan bulang yang terbuat dari logam atau emas sepuhan. Bulang tersebut sebagai simbol struktur masyarakat dan merupakan lambang kemuliaan. Selain filosofis, aksesoris kepala ini juga sangat cantik dipadukan dengan kain ulos warna cerah.

Sementara itu, laki-laki Mandailing mengenakan penutup kepala yang disebut “ampu”. Ampu sendiri didominasi warna hitam dengan paduan warna emas. Warna emas pada ampu ini menunjukkan simbol kebesaran, hal ini karena dulunya ampu hanya digunakan oleh para raja Mandailing.

Kini, pakaian adat Batak Mandailing semacam itu bisa dipakai oleh rakyat biasa saat acara pernikahan atau upacara adat. Dengan begitu, nilai budayanya tidak luntur bukan?

Baju Adat Batak Simalungun

Jika pada pakaian adat suku Batak Mandailing terlihat mewah, maka untuk pakaian adat Batak Simalungun justru terlihat lebih simple dan sederhana. Keduanya menggunakan kain ulos atau kain tenun tradisional, tapi orang Batak Simalungun lebih sering menyebutnya kain hiou.

Menurut banyak orang, pakaian adat dari suku ini agak mirip dengan pakaian adat bangsa Karen yang berada di perbatasan Laos, Myanmar, dan Muangthai. Warna kain yang digunakan pun cenderung cerah dan mencolok, seperti merah, oranye, kuning.

Yang tidak pernah ketinggalan dari setelan pakaian adat ini adalah aksesoris kepalanya. Ya, untuk laki-laki mengenakan penutup kepala yang cukup tinggi dan lancip, biasanya berwarna merah dengan sedikit warna emas.

Pada bagian atas penutup kepala tersebut terdapat rumbai-rumbai menyerupai rambut tapi berjumlah sedikit. Sementara untuk wanita, mengenakan ikat kepala yang mirip dengan ikat kepala milik Batak Toba.

Selain itu, laki-laki Batak Simalungun mengenakan selendang atau sarung yang disampirkan pada bahu begitu saja. Agar tak terkesan polos, para wanitanya pun menggunakan aksesoris berupa bros, gelang, dan sabuk warna emas.

Baju Adat Batak Angkola

Pakaian adat Batak Angkola tampilannya kurang lebih sama dengan pakaian adat milik Batak Mandailing, yakni didominasi warna merah, memiliki aksen emas, serta penutup kepala yang digunakan pria dan wanitanya pun sangat mirip.

Perpaduan warna merah dan emas tersebut menjadikan look pemakai pakaian adat ini lebih glamour. Nah, yang membedakan pakaian adat ini dengan adat Batak Mandailing adalah pada bagian selempang. Batak Angkola identic dengan selendang yang warnanya selaras dengan baju, selendang ini diselempangkan pada badan, sehingga tidak monoton.

Penutup kepala yang digunakan pun sangat mirip dengan pakaian adat Batak Mandailing, yakni menggunakan ampu untuk laki-laki, dan bulang untuk perempuan. Penutup kepala yang dulunya dipakai oleh raja-raja Angkola dan Mandailing ini memiliki fungsi magis dan filosofis. Ya, bulang yang berwarna emas sendiri merupakan lambang kebesaran.

Baju Adat Batak Pakpak

Suku Batak Pakpak memiliki pakaian adat yang bernama “merapi-api”. Pakaian adat suku ini memiliki perbedaan yang sangat menonjol dengan suku Batak lainnya, terutama dari warnanya. Ya, jika Batak lain cenderung memiliki warna cerah dan mencolok, maka pakaian adat Batak Pakpak justru menggunakan warna hitam.

Kain yang digunakan pun berbahan dasar katun dengan tenunan khas Pakpak, tak heran jika tampilannya berbeda jauh dengan suku Batak lainnya. Untuk laki-laki, mengenakan baju merapi-api yang serupa dengan model pakaian Melayu. Ya, kerahnya bermodel bulat serta dihiasi manik-manis, bawahannya berupa celana hitam panjang dibalut sarung oles sidosdos.

Sementara untuk perempuan, mengenakan baju merapi-api hitam yang model kerahnya segitiga, tak lupa dihiasi manik-manik. Bawahan yang dikenakan pun berupa sarung ulos perda batak yang melingkar pada pinggang.

Selain setelan tersebut, pastinya baik pria maupun wanita Batak Pakpak menggunakan aksesoris penutup kepala berbentuk kerucut yang umumnya berwarna hitam. Sering pula para wanita melengkapinya dengan aksesoris tambahan berupa kalung, anting, dan gelang untuk menambah kecantikannya.

Demikian ulasan mengenai jenis-jenis pakaian adat Batak. Masing-masing pakaian adat memiliki keunikan tersendiri bukan? Baik itu bahan yang digunakan, model atasan dan bawahan, atau aksesoris yang digunakan. Keragaman semacam ini mesti kita lestarikan agar nilai budaya Indonesia tidak luntur.

Tinggalkan komentar